Agama dan Moral Sosial Yang Berbeda Jalan

Seorang lelaki menutup matanya dan menangis dalam doa
Doa yang menetes di antara kehilangan arah dan harapan.

Genk, terus terang gw sering ngerasa aneh tiap dengar ceramah di masjid atau di televisi. Isinya nyaris selalu soal pahala, surga, dan dosa pribadi — jarang sekali bicara tentang hal-hal yang menyentuh agama dan moral sosial kita sehari-hari.

Tentang korupsi, marah di jalan, kriminalisasi guru, nyerobot antrean, atau buang sampah sembarangan. Kita hidup di negeri yang katanya religius, tapi dengan moral sosial yang berantakan?

Mungkin, mungkin ya, karena agama di kita sudah lama kehilangan arah sosialnya. Ia berhenti jadi pedoman hidup bersama, berubah jadi perlombaan simbol dan jargon. Padahal, agama dan moral sosial seharusnya jalan beriringan — yang satu menata batin, yang lain menata perilaku. Tapi di negri relijius ini, keduanya sering kagak kenal satu sama lain.

Kadang gw mikir, kenapa kita rajin berdoa tapi gampang marah? Rajin sedekah tapi tega mengambil hak orang lain? Rajin ngaji tapi males ngantre?

Mungkin karena kita sibuk berdebat soal cara beribadah. Kita sibuk menuduh si A melakukan bid’ah dan si B adalah kafir. Kita jarang ngomongin prilaku.

Ritualisme dan Agama Tanpa Moral Sosial

Di banyak tempat, agama adalah panggung identitas. Orang salat lima waktu, tapi tega nyogok. Rajin sedekah, tapi gampang menghina. Ngajarin anak ngaji, tapi lampu belum hijau udah ngacir. Belum lagi yang melawan arah.

Kita begitu getol dengan ritual, tapi lupa pada makna.

Para penceramah pun banyak yang memilih main aman — bicara soal pahala lebih nyaman daripada soal perilaku. Persoalan sabar jauh lebih mudah disampaikan daripada keadilan. Soal aurat apalagi. Lebih sering dibanding integritas.

Mungkin karena bicara prilaku itu berisiko: bisa berbalik ke diri atau dianggap politikus.

Inilah letak masalahnya. Agama menjadi dekorasi rohani. Kita puasa dari lapar, tapi tidak pernah puasa dari ego. Agama menjadi ritualisme tanpa arah. Membuat agama dan moral sosial berjalan ke arah yang berbeda.

Parahnya lagi, cukup banyak dari kita merasa religius hanya karena ikut pengajian atau hafal surah surah panjang. Moral publik tidak dibangun dari penyebutan ikhwan, akhi dan ukhti. Moral publik dibangun dari kebiasaan berbuat baik di ruang sosial, di jalan, di kantor,di dunia maya. Agama harus menyentuh laku, tidak berhenti di bibir.

Ketika Agama dan Moral Sosial Terpisah

Lucunya, kita gampang banget ngerasa berdosa kalau telat salat, tapi nggak ngerasa bersalah kalau nipu sedikit.

Kita takut dosa akibat jilatan anjing tapi tidak ragu setitikpun makan cuan haram. Padahal dosa sosial itu nyata — dari korupsi yang nyeret masa depan banyak orang, sampai bully yang membunuh harga diri manusia.

Ceramah-ceramah kita jarang nyentuh soal itu. Jarang bicara soal ketidakadilan, keserakahan, atau kekerasan struktural.

Kita lebih suka agama yang menenangkan hati, bukan yang menggugah nurani. Kita ingin dihibur, bukan dikritik. Padahal, nabi-nabi datang bukan untuk menyenangkan tapi mengguncang.

Di ruang publik, agama harus hadir sebagai moral kolektif. Mengingatkan bahwa iman tanpa keadilan hanyalah topeng. Agama dan moral sosial tidak boleh hidup di dua dunia — yang satu di mimbar, yang lain di Pos Kota.

Berapa banyak dari kita yang masih ingat ceramah tentang tanggung jawab sosial? Tentang amanah publik? Tentang menolak ketidakadilan?

Agama yang diam di hadapan kezaliman, pada akhirnya, cuma jadi pembenaran bagi kemunafikan berjamaah.

Iman yang Menyentuh Tanah

Genk, gw nggak anti-ceramah. Gw cuma pengen ceramah-ceramah itu menyentuh tanah. Tidak berlama-lama di langit. Bicara tentang antrean, jalan raya, sampah, kekerasan, dan kerja. Tentang kejujuran kecil, bukan cuma keajaiban besar.

Agama semestinya jadi cermin — bukan kostum. Ia harus menuntun kita dari sajadah ke jalan raya, dari masjid ke pasar, dari doa ke tindakan.

Gw pengen dengar ceramah yang berani bilang: “Beriman itu juga berarti nggak buang sampah sembarangan, tidak melawan arus lalulintas.”

Yang berani bilang: “Menipu adalah kufur dalam bentuk modern.”

Karena sejatinya, persoalan surga juga termasuk tentang bagaimana kita memperlakukan manusia hari ini.

Mungkin, di negeri ini, iman perlu modifikasi — bukan tentang hafalan, tapi tentang tanggung jawab.

Kita ini bukan kekurangan aturan, tapi kehilangan malu. Dan mungkin, kehilangan malu itu adalah tanda bahwa kita berhenti belajar jadi manusia.

Rully Syumanda
Arsitek, Penggiat Lingkungan dan Ayah dari tiga orang putri. Tidak terlalu relijius namun selalu berusaha berbuat baik dan percaya bahwa gagasan besar sering lahir dari percakapan kecil. Melalui laman ini, saya ingin berbagi cara pandang — bukan untuk menggurui, tapi untuk membuka ruang dialog. Tentang iman yang membumi, demokrasi yang manusiawi, dan kemakmuran yang tidak meninggalkan siapa pun.
Exit mobile version