Di tengah Perang Narasi Israel di lini masa, platform X berubah jadi arena tempur yang aneh: akun pakai bendera Israel, bio mengaku dari Tel Aviv atau New York, timeline isinya dukungan total yang dibungkus propaganda pro Israel.
Sekilas kayak konflik dua negara yang tumpah ke ruang digital. Tapi begitu gw lihat bagaimana perang informasi ini dipetakan, muncul fakta yang agak nyinyir: sebagian besar suara paling bising ternyata bersumber dari India, jauh dari wilayah konflik yang sebenarnya. Di balik klaim identitas, ada mesin disinformasi digital yang bekerja rapi sambil mengutak-atik opini publik global.
Perang Narasi Israel di Platform X dan Jejak Lokasi
Salah satu plot twist menarik muncul dari fitur Community Notes dan transparansi jejak lokasi digital di X. Banyak akun yang mengaku tinggal di Israel atau Amerika Serikat, menulis thread panjang menyerang perang narasi Palestina, lalu tiba-tiba ditempel catatan: data login konsisten berasal dari New Delhi, Mumbai, atau kota lain di India. Di sini teknologi pelan-pelan buka kedok yang selama ini dipakai buat gaya-gayaan.
Peneliti OSINT dan pemerhati disinformasi digital menemukan pola: banyak akun anonim dengan ciri yang mirip—baru dibuat, sangat politis, narasinya satu arah, dan sering bergerak dalam kluster. Mereka saling menyahut, memakai hashtag serupa, dan menyerang target yang sama. Dalam beberapa kasus, ritme posting dan interaksinya mirip kerja bot politik atau tim yang diatur shift. Gw ngelihatnya bukan lagi orang debat biasa, tapi pabrik opini yang lagi lembur.
Perang Narasi Israel, Islamofobia, dan Mesin Politik
Pertanyaan berikutnya sederhana tapi pedas: kenapa India bisa sedalam itu terlibat? Jawabannya nggak lepas dari konstelasi politik domestik. Di sana, sayap kanan Hindu lagi naik daun, dan Islamofobia dipelihara sebagai bahan bakar politik. Di mata kelompok ini, Israel terlihat seperti “role model”: negara yang dianggap tegas terhadap warga Muslim dan lihai membungkus kekerasan sebagai urusan keamanan.
Dari situ lahir jaringan yang sering disebut sebagai semacam cyber army India—kelompok terorganisir yang rela (atau dibayar) untuk mengisi lini masa global dengan narasi senada. Mereka mengemas propaganda pro Israel dan menyerang siapa pun yang menunjukkan solidaritas Palestina. Kalau dilihat lebih tenang, ini jelas proyek besar manipulasi opini: mendorong dunia menerima bombardir sebagai “langkah wajar”, dan melabeli kritik sebagai dukungan terorisme. Di level ini, Perang Narasi Israel bukan lagi sekadar konflik jarak jauh; ia jadi cermin bagaimana mesin politik domestik India berlatih di panggung internasional.
Rekayasa Algoritma, Polarisasi, dan Echo Chamber
Yang bikin situasi tambah kusut adalah kombinasi rekayasa algoritma dan polarisasi politik yang sudah lama kita pelihara sendiri. Algoritma platform cenderung menghadiahi konten yang memicu emosi kuat—marah, takut, benci. Akun-akun yang ikut dalam Perang Narasi Israel paham betul pola ini: mereka pakai bahasa tajam, visual brutal, dan label ekstrem untuk memaksa orang pilih kubu.
Pelan-pelan, timeline berubah jadi echo chamber. Lo hanya lihat orang yang sependapat, disuplai konten yang menguatkan bias yang sama, dan makin sulit membedakan fakta dengan disinformasi digital yang dikemas rapi. Di situ gw ngerasa, kalau kita pasrah pada arus, yang menang bukan kebenaran, tapi mereka yang paling agresif memproduksi kebohongan.
Dalam kondisi seperti ini, perang informasi benar-benar terasa berlapis. Di permukaan, kita lihat debat sengit soal roket, gencatan senjata, atau resolusi PBB. Di bawahnya, ada jaringan cyber army India, akun bayangan, bot, dan narasi yang disuntik pelan-pelan untuk membentuk cara kita memaknai kata “korban”, “teror”, dan “pembelaan diri”.
Literasi Digital dan Solidaritas yang Nggak Cuma Emosional
Di tengah keriuhan ini, literasi digital bukan lagi sekadar jargon seminar, tapi kebutuhan dasar. Gw nggak berharap semua orang jadi ahli OSINT, tapi ada beberapa refleksi minimal yang bisa kita pegang. Jangan gampang percaya thread panjang dari akun anonim yang baru muncul kemarin, biasakan baca Community Notes, cek kembali sumber data, dan jangan buru-buru ikut share hanya karena kontennya bikin darah naik.
Perang Narasi Israel yang disuntik dengan disinformasi digital dan didorong oleh mesin politik lintas negara ini punya konsekuensi nyata: ia bisa membuat penderitaan warga sipil Palestina tampak “wajar”, dan solidaritas Palestina direduksi jadi emosi sesaat tanpa arah. Menurut gw, bentuk solidaritas yang lebih dewasa justru dimulai dari menolak jadi bagian dari mesin bohong: menahan jempol, menguji informasi, dan berani mengakui ketika kita salah share sesuatu.
Pada akhirnya, kalau ruang digital dibiarkan penuh oleh suara-suara yang dimanipulasi, keputusan dunia soal hidup dan matinya orang di medan konflik bisa ikut dibentuk oleh akun-akun yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di sana. Di titik itu, Perang Narasi Israel bukan lagi sekadar perdebatan di atas layar, tapi ikut menentukan siapa yang dianggap pantas diselamatkan, dan siapa yang dibiarkan hilang di balik kata-kata “kompleks” dan “tidak sederhana”.












Leave a Review