Ketika Gen Z Kehilangan Kemampuan Membaca

Ketika Gen Z Kehilangan Kemampuan Membaca

Beberapa waktu terakhir, sejumlah dosen di Amerika Serikat mengeluhkan fenomena yang tidak mereka bayangkan satu dekade lalu. Mahasiswa baru memang masih bisa membaca. Mereka bisa mengucapkan kata demi kata. Namun semakin banyak yang kesulitan mengikuti argumen panjang, memahami konteks, atau menangkap makna yang tersembunyi di balik sebuah tulisan.

Klaim bahwa “40 persen mahasiswa baru tidak bisa memahami kalimat” memang tidak sepenuhnya benar. Namun, keluhan para akademisi menunjukkan adanya masalah yang lebih mendasar. Bukan krisis membaca, melainkan krisis memahami.

Fenomena ini sering dikaitkan dengan Generasi Z. Generasi yang lahir dan tumbuh bersama internet, media sosial, video pendek, serta notifikasi tanpa henti. Mereka hidup dalam lingkungan yang menghargai kecepatan. Informasi datang dalam potongan-potongan kecil yang harus dipahami dalam hitungan detik. Akibatnya, banyak anak muda menjadi sangat cepat memindai informasi, tetapi semakin jarang berlatih membaca secara mendalam.

Pertanyaannya, apakah fenomena yang sama juga terjadi di Indonesia?

Sayangnya, ada banyak tanda yang mengarah ke sana.

Indonesia memang memiliki karakter yang berbeda dengan Amerika. Namun Generasi Z Indonesia tumbuh dalam ekosistem digital yang hampir sama. TikTok, Instagram, YouTube Shorts, dan berbagai platform lain menjadi sumber informasi utama bagi jutaan anak muda. Mereka terbiasa menerima ringkasan, potongan video, dan opini singkat yang langsung menuju kesimpulan.

Akibatnya, banyak diskusi publik berubah menjadi pertarungan slogan. Judul dibaca, tetapi isi artikel dilewatkan. Kutipan dibagikan, tetapi konteks diabaikan. Video berdurasi satu menit dianggap cukup untuk memahami persoalan yang sebenarnya sangat kompleks.

Kita bisa melihat gejalanya dalam berbagai perdebatan di media sosial. Banyak orang bereaksi terhadap potongan informasi tanpa membaca sumber aslinya. Banyak yang merasa sudah memahami suatu isu hanya karena menonton beberapa video pendek. Bahkan tidak sedikit yang menolak membaca artikel panjang karena dianggap membosankan atau terlalu rumit.

Padahal kemampuan membaca mendalam bukan sekadar keterampilan akademik. Kemampuan ini menentukan cara seseorang berpikir. Membaca panjang melatih kesabaran. Membaca panjang melatih kemampuan menimbang argumen yang berbeda. Membaca panjang mengajarkan bahwa sebuah masalah sering kali memiliki banyak sisi yang tidak bisa dijelaskan dalam satu kalimat.

Di sinilah tantangan terbesar Generasi Z, baik di Amerika maupun Indonesia. Mereka hidup di era dengan akses informasi terbesar dalam sejarah manusia. Namun akses yang melimpah tidak otomatis menghasilkan pemahaman yang lebih baik.

Ironisnya, semakin banyak informasi yang tersedia, semakin sulit mempertahankan perhatian untuk memahami informasi tersebut secara utuh.

Mungkin persoalannya bukan karena Generasi Z lebih malas atau kurang cerdas dibanding generasi sebelumnya. Mereka hanya tumbuh dalam lingkungan yang dirancang untuk merebut perhatian setiap detik. Ketika semua aplikasi berlomba membuat pengguna terus menggulir layar, kemampuan untuk duduk tenang membaca dan merenung menjadi sesuatu yang semakin langka.

Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah apakah Generasi Z bisa membaca atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: di tengah banjir informasi yang semakin deras, apakah kita masih mampu meluangkan waktu untuk benar-benar memahami apa yang sedang kita baca?

Rully Syumanda
Leuwinanggung, June 2026